MEMANUSIAKAN TEKS
Oleh : Dr. KH. Ahmad Musta in Syafi i

By admin web 01 Jan 2021, 17:07:01 WIB Artikel
MEMANUSIAKAN TEKS

Gambar : Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, S.Ag


Dalam satu pertemuan, Beliau ngendikan, “Jadi santri itu harus punya pegangan." Hanya itu pesan singkat yang disampaikan beliau cu hingga ia berlalu. Dan, cukup lama untuk memahami dawuh demikian.

Beliau penulis juga orator yang handal. Kata-katanya dapat menusuk hati lawan bicara. Prinsipnya keras, meskipun dengan jujur Beliau juga berterus terang "ora tegelan". Beliau mewarisi tiga sumber ilmu di Pesantren Tebuireng pada masanya, KH. Syamsuri Badawi yang ahli Ushul Fiqh, KH. M. Yusuf Masyhar yang ahli Al-Qur'an, serta KH. Adlan Aly yang ahli fiqh dan tarekat. Kepada santri-santri senior Beliau memang tidak selalu memberi jawaban-jawaban praktis seperti di kelas. Beliau hanya memberi satu statemen lalu disuruh mikir sendiri. Demikian, guru kami yang selalu dinanti wejangan-wejangannya yang ampuh.

Setiap santri harus menjadi ahli pada intinya. Meskipun dalam bentuk apapun dan sekecil apapun. Seorang santri tidak harus menguasai banyak kitab-kitab besar jika tidak mampu mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Seorang santri cukup meneladani satu pegangan yang sekira mampu olehnya. Dengan demikian, seorang santri akan mendapatkan posisi di tempat ia berada.

Meneladani Al-Qur'an itu memang hal utama, jika mampu. Karena, kapasitasnya sebagai "Hudan lin nas". Petunjuk bagi semua manusia, bukan sekadar umat Islam saja. Tapi, petunjuk bagi semua manusia. Namun, jika tidak mampu, cukup meneladani hal-hal kecil seperti kitab kitab fiqh yang sudah diperas sedemikian rupa oleh para ulama' agar mudah diimplementasikan. Memang, fiqh merupakan buah karya pemikiran ulama, namun fiqh merupakan ijtihad implementatif. Tidak semua orang mampu memanusiakan Al-Qur'an di dalam hidup mereka, terutama bagi kaum awam. Memanusiakan kitab fiqh Fathul Qarib, Al-Hikam, atau sekadar wirid-wiridan pilihan adalah lebih utama. Bukan dalam arti afirmatif terhadap Al-Qur'an, melainkan kemampuan di dalam implementasi memanusiakan teks-teks utama sebagai teladan.

Beliau, KH. A. Musta'in Syaft'i, telah memeras tafsir-tafsir Al-Qur'an dengan bahasa yang mudah dicerna dari sisi ideologis dan psikis masyarakat pesantren di Tebuireng. Bahasa fiqh yang rumit, bahasa tasawuf yang njlimet, serta bahasa sosial-politik yang runyam dapat dihadirkan secara aktual. Hangat.

Istilah aktual tersebut sebetulnya dimunculkan oleh murid-murid Beliau yang telah berhasil mengumpulkan rekaman-rekaman khitabah di beberapa sesi khutbah Jum'at pada mulanya. Istilah yang mungkin terinspirasi dari buku Kang Jalaluddin Rakhmat. Namun, menurut hemat saya, tafsir-tafsir Al-Qur'an KH. A. Musta'in Syafi'i tidak hanya sekadar aktual, namun juga referensial, karena Beliau dikenal memiliki “nahjul balaghah" yang mumpuni. Mendengar khitabahnya sama seperti membaca buku yang lengkap dengan bahasa manusiawi yang melekat. Membaca kitab kitab tafsir berjilid-jilid serasa membaca cerpen. Penuh emosi, merangsang berpikir, serta dengan referensi yang akurat.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment