MENUJU KEMENANGAN HATI

By admin web 15 Mei 2021, 05:52:50 WIB Artikel
MENUJU KEMENANGAN HATI

Gambar : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H


"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"

 

Bacaan takbir menggema seantero nusantara, umat Islam berbahagia menyambut bulan penuh berkah dan karomah. Tak peduli dari ormas mana, tak peduli tua dan tak peduli muda semua bergembira menyambutnya.

 

13 Mei 2021, pemerintah menetapkan dalam sidang ishbatnya bahwa Ramadhan akan pergi dan Syawal menyambutnya dengan riang hati. Mungkin ada, beberapa orang menyambutya dengan tetesan air mata semenjak Ramadhan tiada. Banyak juga orang menyambut kepergian Ramadhan dengan bersuka ria. Mengharap berkumpulnya Keluarga besar dengan di iringi dengan THR yang bersiap untuk dibagikan terhadap sanak keluarga.

 

Sudah 2 tahun ini, pandemi Covid 19 menjadi cobaan untuk kita semua, bulan Syawal yang bersuka ria, seolah menjadi hening tanpa ada harapan nyata. Penyesalan dari berbagai sanak jauh mulai kelihatan, wajah yang hampir meneteskan air mata di balut dengan canda tawa seolah tak pernah ada apa-apa. Sillaturrahmi menjadi terhambat, tatapan ceria seolah menjadi khayalan semata.

 

Apakah dengan adanya pandemi Covid 19 menyudutkan kita dengan Sillaturrahmi?? Tentu seharusnya itu tidak terjadi. Dengan berkembangnya zaman, seolah media menjadi pemasok utama dalam keadaan yang sedemikian rupa. Kita juga tidaka bisa berharap banyak tentang apa yang ada untuk saat ini, tentang sampai kapan kondisi akan terus seperti ini ?, tentang kapan di bukanya pembelajaran tatap muka lagi ?, dan masih banyak lagi.

 

Apakah kita akan menentang keadaan ini, dengan berteriak bahwa Covid adalah buatan, ia tidak nyata, ini hanyala sebuah paradigma yang diciptakan penguasa.

 

Sampai kapan kita menentang adanya kejadian ini ?

Sampai kapan kita terpengaruh dengan boomerang-boomerang yang menyudutkan setiap individualitas yang ada ?

Bukankah itu sebuah keegoisan semata ??

 

Wabah penyakit juga pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab, tepatnya pada bulan Rabiul Awwal tahun kedelapan hijriyah. Umar sempat berdebat dengan Abu Ubaidah, Gubernur Syam soal wabah penyakit dan takdir.

Wabah terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam. Awalnya sang Amirul Mukminin itu berencana melakukan kunjungan ke Syam yang ketika itu sudah bergabung dengan kekuasaan Islam. Sampai di Saragh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang ketika itu disebut menjabat Gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahu Umar bahwa wilayah Syam sedang terjadi wabah penyakit. Mendapat kabar tersebut Umar memutuskan berhenti di Saragh.

 

Abdullah Ibnu Abbas seperti diriwayatkan dalam hadits Abdurrahman bin Auf menceritakan bahwa ketika itu Umar meminta dipanggilkan beberapa Muhajirin sepuh. Dikutip dari Kitab Al Lu'lu wal Marjan karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, Umar kemudian berdiskusi dengan tokoh-tokoh senior Muhajirin.

 

Terjadi perdebatan antara tokoh senior Muhajirin dengan Umar bin Khattab. Ada yang menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan ke Syam, tak sedikit yang meminta Singa Padang Pasir itu kembali ke Madinah.

 

Tak ada titik temu, pertemuan itu pun dibubarkan. Umar kemudian minta Ibnu Abbas untuk memanggil orang-orang Anshar. Lagi-lagi tak ada titik temu karena terjadi perdebatan soal perlu tidaknya Umar pergi ke Syam.

 

"Sekarang tinggalkan saja aku. Tolong panggilkan aku sesepuh Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukkan Makkah," kata Umar kepada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas pun memanggil tokoh Quraiys yang dimaksud Umar dan ternyata tinggal dua orang saja. Kepada Umar mereka menyarankan agar mengurungkan niat untuk mendatangi Syam mendatangi daerah yang terkena wabah penyakit.

 

Umar sepakat dan kembali ke Madinah. "Aku akan berangkat besok pagi (ke Madinah) mengendarai tungganganku, maka kalian pun berangkat besok pagi mengendarai tunggangan kalian," kata Umar.

 

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. "Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?" kata Abu Ubaidah.

 

"Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya," Jawab Umar bin Khattab.

 

Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah. Hingga kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah SAW:

 

"Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya."

 

Umar bin Khattab kemudian meminta Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam juga meninggal dunia terkena wabah.

 

Wabah penyakin di Syam baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat gubernur. Dia mencoba menganalisa penyebab munculnya wabah dan kemudian melakukan isolasi, orang yang sakit dan sehat dipisahkan. Wabah penyakit di Syam pun perlahan-lahan mulai hilang.

 

Itu adalah contoh yang dapat kita ambil pelajaran tentang kondisi kita untuk saat ini.

 

KH. Abdul Hadi Yusuf (Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur an) juga banyak berpesan ketika menyampaikan sebuah sambutan selalu berpesan kepada santri-santri bahwa “di setiap kegiatan dirumah, baik dengan keluarga, atau teman sebaya. Usahakan tetap mematuhi protokol yang sudah di anjurkan oleh pemerintah, dengan tetap menjaga jarak, memaikai masker, dan cuci tangan. Sayangi keluarga dirumah.” (disampaikan oleh beliau pada saat sambutan setelah sholat idul fitri, yang diliput oleh Tim Media Pondok Pesantren Madrasatuk Qur an (Galeri MQ). (13/06)

 

Degan amanat yang sudah disampaikan oleh beliau, semoga bisa memberi kita teladan bahwa pentingnya mematuhi protokol kesehatan dengan kondisi pandemi yang ada.

 

Semoga kita dan keluarga tetap diberikan oleh Allah SWT kesehatan yang barokah, sehingga kita bisa mengisi liburan kita dengan aktivitas yang ada.

 

Kami Juga Mewakili Tim Media Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (GaleriMq) mengucapkan, Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. (am)

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment