PROGRAM SEDIKIT PEMINAT
Program Qiro ah Sab ah

By admin web 25 Nov 2020, 11:59:50 WIB Artikel
PROGRAM SEDIKIT PEMINAT

Gambar : Salah Satu Narasumber Wawancara : (Alm.) KH. Munawar Hidayat


Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, kenapa di Pondok Pesantren Madrasatul Qur an program Qiro’ah sab’ah sangat minim peminat atau bisa dibilang wisuda musiman, tergantung peminat dari zaman ke zaman. Terlihat dari perkembangannya, tahun 2015 Unit Tahfidh mendelegasikan satu peserta wisudawan, yakni sang macan MTQ Indonesia Ust. Sholachuddin Al-Ayyubi. Pada tahun 2017, kembali mendelegasikan satu peserta kembali.

Padahal pada saat mu'assis Pesantren MQ, KH. M. Yusuf Masyhar masih sehat, begitu banyak santri yang berminat untuk mempelajari ilmu tersebut, meskipun Pak Yai sendiri tidak belajar Qiro’ah sab’ah. “Kendala menurun peminat qiro’ah sab’ah, karena lebih dipermudah atau diperingan syaratnya, yakni dengan tidak menulis, selain itu juga mereka lebih mementingkan kuliah daripada setorannya. Apalagi mereka yang berkecimpung di organisasi. Menurut saya, zaman sekarang kurang riyadhohnya pada ilmu sekaligus kurang percaya dengan riyadhoh itu sendiri, apalagi qiro’ah sab’ah yang seharusnya lebih diriyadhohi. Syarat yang lebih dipermudah, anak-anak malah lebih lalai. Kelemahan zaman sekrang ya seperti itu.” sanjang dari KH. Munawwar “Tidak hanya program sab’ah yang menurun, program binnadhor pun sangat menurun, kualitas bacaan anak MQ sekarang menurut saya mengalami penurunan, sangat berbeda dengan dulu zaman saya, yang lebih mementingkan usaha dan taat pada Yai, hasilnya pun bisa kami rasakan sekarang” Tambah beliau.

Qiro’ah sab’ah berawal dari Kiai Marzuki yaitu santri dari Kiai Arwani Kudus, tak lain adalah murid dari Kiai Munawwir Krapyak. Setelah menimba ilmu di kudus, kiyai Marzuki langsung nyantri ke MQ dengan membawa ilmu qiro’ah sab’ahnya dari Kudus. pada saat itu para santri disuruh belajar ilmu Qiro'ah Sab'ah pada beliau sampai selesai. KH. M. Yusuf Masyhar tak pernah belajar qiro’ah sab’ah, karena guru pertama beliau dari Jenu, yang bernama Kiai Husen dan Kiai Dahlan dari Peterongan.

Diadakannya wisuda Qiro’ah sab’ah pertama kali, pada sasi ke-dua Wisuda Hafidh di MQ.Tujuan Qiro’ah Sab’ah diadakan, untuk membekali santri yang terjun ke masyarakat kelak, agar berilmu dan tidak heran dengan bacaan yang tidak sama dengan apa yang ia dengarkan selama ini. Selain itu pula, untuk mengamalkan tuntunan Rosulullah SAW “khoirukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu” sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar alqur’an dan mengamalkannya. Tidak kaget dengan zaman yang semakin gila ini, dimana segala makna telah terbuang dengan hanya fokus dengan satu pengalihan makna saja. Seperti yang terjadi di media kabar belakangan ini, dimana AlQur’an yang dibaca tidak sama dengan AlQur’an yang selama ini kita dengar, sampai-sampai melaporkan ke pihak yang berwajib dan menuntut untuk di tindak lanjuti. Usut punya usut, ternyata Qur’an tersebut terbitan Maghribiy, yang diriwayatkan oleh Imam Warsyh dari gurunya Imam Nafi’, sedangkan yang kita baca selama ini Qur’an yang diriwayatkan Imam hafsh dari gurunya Imam ‘Ashim yang sama-sama periwayatannya shahih dan mutawattir.

Selain itu, fungsi dari mempelajari Qiro’ah Sab’ah agar dapat mendukung penafsiran AlQur’an secara menyeluruh, karena kadang juga makna satu lafadh AlQur’an dari satu Imam ke Imam yang lain, berbeda. Bukan berarti pula Qiro’ah Sab’ah itu sama dengan AlQur’an berjumlah banyak, tapi logat Imam saat Rasulullah SAW membacakan pada sahabat ke sahabat yang lain memang berbeda dan Rasulullah pun membenarkannya. Maka dari itu disebut Qiro’ah  Sab’ah, Qiro’ah yang paling mutawattir atau sanadnya yang shahih dan menyambung sampai Rosulullah langsung. Perbedaan logat itu kadang, bisa diumpamakan seperti ucapan logat yang kita ucapkan sehari-hari, seperti di daerah jombangan mengucap “Pye..!!” kalau di daerah suroboyoan “Yo’opo..!!” dan keduanya pun sama-sama benarnya

Hal seperti demikian sangat disayangkan sekali jika santri yang Hafidh AlQur’an, apalagi santri MQ yang belum tau mengenai periwayatan Qiro’ah Sab’ah seperti demkikian. “Sekarang lho, sudah enak mas, kalau mau mengikuti program Qiro’ah Sab’ah tinggal setor, setor dan setor. Apalagi yang sudah lancar alqur’annya.. dulu itu, yang masih empat generasi itu tadi, sayaratnya dengan nulis 30 juz dengan seluruh kaidahnya. Setiap sepuluh juz, berhenti lalu disetorkan, begitu terus seterusnya.. jadi bisa lama selesainya mas.. kalau saya sendiri, sekalian saja segala ilmu yang ada di MQ dituntasakan, tidak setengah-setengah, orang cuma meluangkan waktunya dua tahun apa susahnya sih, cuman tinggal istiqomah saja kok, gak ada susahnya sih santri sekarang, dibanding santri dulu yang masih merintis” motivasi beiau, KH. Munawwar

Sangat disayangkan memang, program yang telah dirintis sejak dulu oleh pendahulu kita, seakan sirna ditelan zaman. Apalagi syarat-syaratnya telah dipermudah dan hanya bermodal istiqomah setor saja, memungkinkan waktu selambat-lambatnya, jika mau istiqomah hanya sekitar dua tahunan saja. Mungkin dari pihak yang berwajib, bisa mencari solusi yang membuahkan hasil yang maksimal, mengenai permasalahan para santri yang minim peminat ini.

Kalau memang ingin membangkitkan semangat anak-anak untuk mengikuti program tersebut. Maka sangat perlu ada penegasan yang maksimal untuk dikumpulkan seluruh anak pasca, mungkin tiap bulan atau tiap minggu untuk diberi motivasi yang lebih. Agar mereka tidak turun semangat, apalagi semangat orang-orang kan berbeda-beda. Kadang pas masuk ayat yang sulit dan sangat banyak pengulangan atau sudah jauh-jauh dari MQ ke tempat setorannya, ternyata badalnya tidak nunggu atau berbagai alasan lain yang bisa menimbulkan semangat riyadhohnya berkurang. Bisa juga dari segi keilmuan yang mendukung program tersebut, alasan kenapa dibaca ini kenapa dibaca itu, dst.” Usul beliau, KH. Munawwar.

Mereka yang mengikuti Qiro’ah Sab’ah, jelas ada peluang dan wadah untuk termotivasi melancarkan hafalannya, kalau bisa kita yang mondok di MQ sudah khatam, menyesal kalau tidak mengambil program Qiro’ah Sab’ah, karena orang luar taunya kita di MQ sudah menguasai betul segala yang menyangkut tentang AlQur’an, meskipun kelihatannya begitu, jadi setidaknya ada nilai plus yang bisa diunggulkan “Pesan saya sih, untuk santri MQ yang mengikuti Qiro’ah Sab’ah, janganlah terlalu tergiur dengan kuliah, apalagi kuliah-kuliah sampai keluar dan rela memutus perjalanan Qiro’ah Sab’ahnya, tohh.. kuliah diluar ya tidak menjamin bisa sukses. Karena kalau kita mau memperhatikan, sudah banyak sekali yang menurun dari zaman ke zaman, bukan hanya program ini, tapi juga keahlian baca kitab, seleksi binnadhor, dst. Jangan sampai sudah banyak yang menurun, lalu program ini menurun juga, setidaknya ada gerakan pasti lah, karena kemarin itu ada anak yang telah wisuda binnadhor di MQ dan pindah ke sini, tapi bacaannya masih tergolong buruk, ya saya mau gimana, sudah diwisuda di MQ masak wisuda binnadhor lagi disini. Tambah saya lagi, seharusnya ada wadah yang serius mengenai program ini, entah nanti badalnya yang difokuskan untuk santri yang mengikuti program sab’ah atau bagaimana, karena saya melihat juga di MQ kurang adanya perhatian yang serius menegenai program ini” Tambah beliau. (Am)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment