Santri Yang Benar Benar Santri

By admin web 09 Jan 2021, 22:41:55 WIB Artikel
Santri Yang Benar Benar Santri

Gambar : Salah Satu Santri MQ Mengaji Di Masjid


Konon nabi muhammad saw pernah diajak oleh malaikat jibril pergi ke surga, ternyata di tengah perjalanan ada suara yang mengejutkan beliau. Kanjeng nabi pun menanyakan hal demikian kepada malaikat jibril, ternyata itu adalah terompah (bakiak : jawa ) yang bergerak-gerak di dalam surga. Malaikat jibril pun menyampaikan, terompah itu adalah salah satu kepunyaan dari sahabat bilal, terompah kepunyaan seorang sahabat yang berkulit hitam pekat itu ternyata lebih dulu masuk surga. Bagaimana jika salah satu barang kepunyaan kita berada di surga lebih dulu, seperti yang dialami oleh sahabat bilal, barang tentu sudah menjadi jaminan, bahwa barang titipan kepunyaannya saja sudah masuk surga, apalagi orangnya. Demikian ini menunjukkan, bahwa segala barang titipan dari ALLAH yang kita miliki itu juga diberi pertanggung jawaban ketika di akhirat nanti, bukan hanya tubuh dan ruh kita saja yang ditanya akan tanggung jawab yang kita lakukan. 

Akhirnya rasulullah saw pun menyelidiki, kenapa terompah sahabat bilal sampai mendahului berada di surga dari pada orangnya. Ternyata salah satu point kritik positif yang dilakukan oleh sahabat bilal selama hidupnya adalah “tidak pernah batal ketika wudhu/mudawama ‘anil wudhu”, inilah yang menyebabkan sahabat bilal dipandang sangat mulia oleh penduduk langit. Apalagi kita yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren ini, tentunya sangat mendukung akan keberlangsungan belajar kita disini. Kelihatannya memang sepele, namun jika kita terapkan terus menerus, tiap batal wudhu langsung wudhu lagi, terus menerus istiqomah dan berkomitmen demikian. Niscaya ilmu yang kita dapat sangat mudah untuk diserap. Bisa jadi kendala ketika menuntut ilmu itu susah karena wudhunya batal, atau bisa jadi juga gurunya sendiri yang tidak punya wudhu.

Selain itu, salah satu efek dari mudawama ‘anil wudhu ini karena ilmu itu cahaya, maka tangkapan dari cahaya itu bisa ditangkap oleh kessucian bathin dan salah satu cara mensucikan bathin itu harus dengan wudhu. Btapa indahnya jika pekerjaan yang kita lakukan itu selalu diiringi dengan kesucian bathin dengan cara menjaga wudhu.
Sama halnya dengan apa yang diterapkan di Pondok Pesantren Peta yang berada di Tulungagung, seluruh tukang masaknya tidak ada yang batal wudhunya. Pernah suatu ketika, bagian dari petugas nasinya ada yang tidak berwudhu ketika menyiapkan makan malam, serta-merta nasi yang dari masakan tadilangsung membusuk ketika masakannya mau dimakan oleh santri-santrinya. Seluruh petugas, pengurus dan Santri pun dikumpulkan oleh Kiai. Sontak Kiai pun langsung menanyai satu-persatu dari petugas yang menyiapkan makanan “Siapa yang tidak berwudhu..?” Kemudian salah satu petugas itu pun menjawab dengan ketakutan “Nggeh Yai.. niki Fulan mboten wudhu.. “.

Di Jombang juga ada satu warung yang menerapkan aturan, petugas masaknya harus berwudhu terlebih dahulu, tepatnya di Mojoagung dekat alun-alun. Di sana terkenal dengan masakan Mie-nya yang memanjakan lidah, saya (Ust. Fuad Taufiq) pun menanyakan kepada penjualnya, “pak.. kenapa sampean kok bolak-balik ke kamar mandi,kembali lagi, ke kamar mandi, kembali lagi... memang ada apa...?” bapak penjualnya pun menjawab “iya pak, saya bolak-balik batal,wudhu,batal,wudhu..” saya pun kembali menanyakan “lah, memangnyagak gosong...?” kok sampean ketika tengah-tengah memasak malah berwudhu...” dengan santainya, si bapak penjual tadi pun menjawab” ndak kok pak.. buktinya ndak gosong.. saya juga sudah biasa kayak gini...”

Inilah sisi positif dari menjaga wudhu agar tidak batal,terasa sangat sepele, biasa-biasa saja, tidak masuk akal bahkan. Namun terbukti dari cerita-cerita di atas, ternyata memang sangat berpengaruh, sangat berefek positif untuk segala apa yang kita kerjakan, entah itu perkara dunianya, apalagi masalah akhiratnya. Benar kiranya apa yang disampaikan KH. A. Musta’in Syafi’ie dalam salah satu ceramahnya, bahwa “meng-akhiratkan perkara dunia itu memiliki nilai plus lebih daripada mengerjakan perkara dunia hanya bernuansa dunia saja...”. apalagi kita sebagai santri, sebagai penuntut ilmu yang dinilai sebagai sabiilillah atau berjalan di jalan ALLAH, seharusnya sangat lebih bisa untuk menjaga wudhu. Ketika batal, wudhu lagi, ketika batal wudhu lagidan seterusnya.
KH. M. Yusuf Masyhar Pernah menyerukan kepada santrinya,kalau mau menghafal ketika malam, tolong sebelum tidur untuk membacanya tiga sampai tujuh kali sebelum tidur. Dari sini, jika difikirkan lagi, ketika orang mau membaca Al Qur an mesti harus punya wudhu, sampai tidurpun harus tetap terjaga atau bisa disebut suci dari hadast kecil maupun besar. Kerana orang tidur dalam keadaan wudhunya tidak batal, maka dia akan dijaga oleh malaikat.

Apalagi dibenturkan dengan masa-masa sekarang, berbagai tantangan besar sudah mempengaruhi kita semua. Maka solusinya, nilai mudawama ‘anil wudhu harus bisa ditingkatkan, lebih lebih dari segala lini yang ada, pembinanya punya wudhu, petugas masaknnya punya wudhu, santrinya punya wudhu. Niscaya membagi dan menerima ilmu akan dirasa lebih mudah dari sebelumnya, karena tempatnya nur (cahaya/ilmu) itu secara tidak langsung sudah dibuka dan digelar. Jika nur itu mau diterima, tapi belum ada tempatnya (tidak punya wudhu) mesti nur itu akan lari. Maka kita usahakan bersama-sama untuk selalu menjaga kesucian dari hadats kecil maupun besar, lebih-lebih untuk selalu menjaga agar wudhu kita tidak batal.

Selanjutnya, setelah kita sudah terbiasa untuk menjaga wudhu, sebisanya kita menerapkan syarat menjadi murid/  santri. Syarat menjadi murid/ santri itu sebenarnya hanya dibagi menjadi dua :
Pertama : At-Taslim, bisa disebut juga penyerahan diri. Baik penyerahan diri kepada Allah maupun penyerahan diri kepada guru/pengurus. Seorang murid/santri harus ada rasa penyerahan diri yang totalitas kepada guru, pengurus, lebih-lebih kepada kiai. Jika disuruh begini, langsung dilakukan, tidak ada alasan apapun yang mendasari individualnya, murni-totalitas untuk guru/pengurus.

Rasa senang dan gembira ketika diperintah, juga merupakan unsur dari At-Taslim itu tadi, ketika sudah terbiasa senang ketika melaksanakan suatu ketaatan, maka akan muncul sifat Qona’ah. Mudah menerima apa yang diberikan oleh orang tua kit, bukan selalu meminta dan menuntut hak atau imbalan atas kewajiban yang kita laksanakan. Padahal orang tua sangat mengharapkan agar anaknya benar-benar fokus belajar di Pondok Pesantren ini.
Jika Qona’ahnya itu akan muncul, maka secara tidak langsung dia akan menjadi zuhu. Zuhud itu berarti perhatian yang fokus terhadap apa yang kita cita-citakan, fokus dalam belajar, fokus dalam mengaji, fokus dalam menghafal Al-Qur an, dan sebagainya. Istiqomah, konsisten dan jejeg terhadap segala yang kita lakukan, tidak berpengaruh oleh lingkungan dan mempunyai prinsip positif sendiri.

Kedua : Tawadhu’. Tawadhu’ disini bukan hanya pada sisi panca indra saja, bukan hanya sisi fisiknya saja. Namun lebih-lebih pada sisi hati kita, pada sisi ‘abdun-nya, kita menunduk ketika ada guru saja, tapi hati kita tidak menunduk, di belakang masih tetap ghibah tentang gurunya, masihtetap membicarakan keburukan gurunya. Memang benar apa yang diungkapkan oleh KH. A. Musta’in Syafi;ie dalam Kajian Tafsir Ahkam di Madrasah Aliyah MQ, bahwa “Tunjukkan kita bersikap hormat dan tawadhu’ itu bukan karena orangnya yang terhormat, tapi karena kitalah yang bersikap demikian”.

Rasulullah SAW, selain disebut sebagi Rasul atau Nabi, juga disebut sebagai ‘abdun (hamba). Kenapa demikian? Karena totalitas aktifitas Rasulullah SAW mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dinilai menjadi ibadah. Apakah kita bisa?. Sudah tentu harus bisa dan memang bisa. Dengan cara segala apa yang kita kerjakan itu berniat ibadah. Ciri dari seorang ‘abdi  yang totalitas itu seperti, makan bukan karena makanannya nikmat, nilai dalam hati yang dimunculkan bukan karena rasa makanan yang ada pada lidahnya, tapi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, karena badan kita juga punya hak untuk dipenuhi. Berusaha dimunculkan rasa syukur dalam hati atas apa saja yang kita makan, apapun lauk-pauknya, tak berlebihan juga tidak kekurangan.

Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW berjama’ah di Masjid bersama sahabat-sahabat yang lain, waktu sholat sahabat ada seperti gesekan-gesekan batu/besi. Setelah sholat selesai, Abu Bakar pun menanyakan kepada Rasulullah SAW”... Kenapa saya mendengar ada suara aneh di sekitar perut kanjeng Nabi ketika mau bangun dari sujud, dan sebagainya...?. Akhirnya dibukakanlah oleh Rasulullah SAW, tenyata ada batu-batu kecil yang berjejer. Menunjukkan kalau Rasulullah SAW belum makan dari beberapa hari terakhir, inilah yang disebut makna ‘abdi yang sesungguhnya.
Demikian adalah gambaran, bahwa kita belajar, berproses dan berusaha disini itu nilai tawadu’nya bukan hanya pada sisi panca indra atau fisiknya saja, tapi juga pada sisi hatinya. Tidak selalu berprasangka buruk, tidak rakus, tidak bermuka dua, tidak mudah merusak barang-barang waqaf, dan sebagainya. Dilatih untuk selalu bersyukur dan mempunyai sifat ‘abdi seperti halnya yang dimiliki oleh Rasulullah tadi. Bukan selalu menuntut hak-haknya sendiri untuk selalu diberikan. Justru santri yang benar-benar santri itu selalu peduli terhadap lingkungan,kebersihan, menjaga barang-barang wakaf dan sebagainya.

اللهم اهدي قومي فانهم لايعلمون

Semoga dari tulisan ini menjadikan kita santri yang bebar-benar santri, selalu menjaga wadah dari ilmu yakni menjaga wudhu dan nilai tawadu’ kita akan semakin meningkat, baik dari sisi panca indramaupun dari sisi hati nurani kita...Aamiin...

*Tulisan ini diambil dari majalah MQ Times, yang di reportase tim redaksi  pada tausyiah malam jum’at 24 januari 2020 di masjid Agung Madrasatul Qur’an Tebuireng oleh Bapak Fuad Taufiq, S.Ag., M.Pd
 ___________________________
 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 13 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment