SETORAN ATAU MENYIMAKKAN...??
Opini

By admin web 02 Mar 2021, 18:55:43 WIB Artikel
SETORAN ATAU MENYIMAKKAN...??

Setoran, merupakan sebutan yang tidak asing lagi di telinga kalangan santri, terkhusus yang menggeluti di bidang kitab maupun Al-Qur an. Setoran adalah kegiatan sima’an hafalan antara murid dengan guru, ustadz dengan muqoddim, kafil dengan santri, bapak dengan anak, dsb. Tradisi setoran ini dibagi menjadi tiga, yakni : setoran itu sendiri, badal/mushrif/kafil/dsb. (ustadz/guru/penyimak) dan yang ketiga adalah santri sebagai penyetornya. Biasanya, dari keduanya ditengahi oleh raport setoran sebagai penanda sampaimanakah santri itu setor.

 

Bisa yang disetorkan adalah hafalan kitab-kitab, kitab nahwu-shorof, hadits-hadits, hingga Al-Qur an. Kenapa sih, di pesantren itu apa-apa menghafal..?! karena bagaimanapun juga, jika kita ingin mengembangkan satu cabang ilmu pengetahuan, kita harus hafal dulu. Karena jika kita tidak hafal sedangkan kita ingin megembangkan suatu ilmu pengetahuan, pasti jadinya yang kita kembangankan adalah fikiran kita sendiri, bukan ilmu pengetahuan tersebut.

 

Kegiatan demikian menjadi lumrah adanya di dunia Pesantren, karena di Pesantren tak ada kurikulum yang dipatenkan, sosial bermodel semi paternalistik dan lebih mengedapankan pendidikan mental, moral dan suri tauladan yang tidak lain dicontohkan oleh kang-kang atau senioran hingga Kiai di sana. Selain itu, jika timbul permasalahan dari lintas generasi, maka jawabannya perlu adanya regenerasi yang sehat tentunya.

 

Tidak lupa, ciri khas Pesantren yang paling utama adalah tradisi menjaga Sanad. Contoh kecil setoran ini saja. Kebanyakan santri malah menganggap setoran itu sebagai formalitas menyimakkan saja, tidak lebih dari itu. Padahal santri dulu, selain mereka itu memiliki niat “ngalap barokah” juga totalitas diniati sambung sanad sampai Rasulullah SAW, malaikat jibril hingga Allah SWT.

 

Santri yang menjaga sanadnya, seharusnya ketika badal tidak nunggu bisa setor ke badal lain muroja’ah saja. Atau jika tidak bisa, cara menyiasatinya bisa ditambal ketika setor tashih” begitu kurang-lebih dawuh Abah Yai Syakir di konten YouTube Galeri MQ. Karena bagaimanapun juga, setoran Al-Qur an terkesan lebih sakral daripada setoran hafalan lain. Dengan catatan “totalitas sambung sanad” bukan “formalitas sambung sanad”, terpenting esensi dan aurahnya, bukan eksistensi hitam diatas putihnya, meskipun era sekarang lebih digunakan dan dibutuhkan. Bukan maksud merendahkan, selain Kiai kita tidak begitu memperhatikan demian, juga ada tuntutan yang lebih tinggi di balik tanggung jawab tinggi terhadap wujudnya hitam-diatas putihnya tadi.

 

Terasa di era sekarang mengenai kualitas hafalan yang sering dipertanyakan kalangan masyarakat umum, apalagi mereka yang menapaki sendiri produk-produk jebolan pesantren Qur an khususnya. Tidak na’if, ternyata mayoritas pesantren pun mengakui hal tersebut juga.

 

Kembali lagi pada persoalan setoran atau menyimakkan. Bahwa kesadaran kita dituntun untuk lebih berbenah lagi, serta memikirkan ulang apa fungsi dari setoran dan apa bedanya dengan menyimakkan. Karena menyimakkan pun bisa ke teman kita sendiri, apalagi ada tradisi mudarosah/muthola’ah di beberapa Pesantren (sima’-sima’an hafalan ke teman ba’da maghrib), sedangkan ngalap barokah dan sambung sanad tidak bisa ke teman kita sendiri. Sekali lagi, mudarosah/muthola’ah sebagai tradisi ya, bukan program. Jadi, ada atau tidaknya penyelenggraannya, selagi sudah mendarah-daging dalam diri kita, maka tetap kita laksanakan. Bahwa “hafalan sebelum disetorkan, kurang afdhol rasanya jika belum disimakkan ke teman” adalah kesadaran sejati santri penghafal Qur an.

 

Kita tau, dimana-mana makanan yang disuguhkan ke tamu pun harus sudah matang, bukan malah menyuguhkan masakan setengah matang apalagi menyuguhkan bumbu makanan dan si tamu disuruh masak sendiri atau malah kita yang memasakkan..?? cuman minta arahan dari si tamu. Demikian perumpamaan bagaimana seharusnya sikap kita kepada guru/badal dan bagaimana seharusnya kualitas hafalan kita diperbaiki di hadapan guru/badal kita.

 

Contoh lain lagi, jika boleh diibaratkan, kita sebagai supir angkutan umum dan yang menjadi boss adalah guru kita. Ketika si supir ingin menyetorkan uang setoran kepada boss, setidaknya si supir sudah menghitung dan menata uang yang akan disetorkan, meskipun si supir tau kalau bossnya bisa menghitung dan menata uang sendiri (etika sebagai bawahan, setidaknya supaya tetap digaji atau bahkan naik gaji). Sama halnya, meski kita tau kalau sang guru bisa membenarkan hafalan kita ketika setoran berlangsung, tapi jelas harus ada etika agar barokah dan ilmu dari sang guru cepat tersampaikan.

 

Pedagang di pasar pun merelakan tenaga dan waktunya, begadang dan sudah mulai bekerja dari jam dua pagi demi mencari ma’isyah, itupun masih belum pasti perolehannya, belum pasti pembelinya berapa, belum pasti untungnya berapa. Sedangkan kita, dibangunkan jam tiga pagi saja masih banyak membangkangnya, belum lagi usaha kita dalam menghafal Qur an masih setengah-setengah, padahal perolehannya sudah pasti dijamin oleh Sang Maha Kuasa jika kita ikhlas. Allah menyuruh kita berusaha dan mengulang bacaan Al-Qur an kita, sedangkan berhasil dan lancar adalah bonus yang diberikan Allah kepada kita.

 

Kalau tidak bisa lancar seratus persen, setidaknya sebelum disetorkan bisa disimakkan ke teman, sebagai syarat supaya tidak terkesan setor ke badal itu menyimakkan hingga dituntun-tuntun perkalimat atau bahkan perkata.

 

Karena kualitas hafalan tiap generasi huffadh itu bisa lebih baik atau buruknya, tidak lain ditentukan dari kedisiplinan santri ketika proses setoran, juga diimbangi dari kesungguhan bathiniyah guru. Jadi diniatinya bukan menyimakkan, melainkan niat sambung sanad dan ngalap barokah, setidaknya kita tau rasa dari hafalan yang didengarkan ke guru kita dan teman kita jelas berbeda. Gampangannya, ketika hafalan kita disimakkan teman itu gladi kotor, ketika didengarkan guru itu gladi bersihnya, sedangkan actionnya ketika terjun ke masyarakat.

 

Maka mendukungnya terbentuk mental ketika hafalan kita didengarkan. Berefek ketika kita diikutkan MHQ atau deresan/sima’an tidak ketakutan dan grogi serta cari-cari alasan, padahal bukan karena tidak lancar, hanya mental hafalan kita saja yang belum terbentuk.

 

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment